
Sampai, detik-detik quick count di umumkan, rasa optimisme akan mendulang suara minimal 9%, terus membuncah dalam hati, bahkan saya pribadi optimis di atas 10%, dengan indikator: (a). Kampanye PKS tanggal 30 Maret merupakan kampanye terbesar dan paling tertib, lebih dari 300.000 orang yang ikut kampanye, gelora bung karno putih, dan tumpah ruah, bahkan tercatat di rekor MURI, malamnya ada ustadz dari Jambi yang menelepon konfirmasi seberapa besar massa kampanye tanggal 30 Maret tersebut, dari perbincangan tersebut di Jambi saja untuk kampanye PKS, massa yang hadir mencapai 8.000 orang, untuk ukuran di Jambi, menurut saya ini sangat besar. (b). Rekan-rekan tingkat DPRa (ujung tombak yang ada di tengah-tengah masyarakat), bekerja sunguh-sungguh, bahkan saya merasakan semangat beramal yang luar biasa telah di lakukan oleh jajaran DPRa, mulai pemasangan atribut sampai menyisir satu persatu rumah untuk direct selling. (c). DPP mentargetkan perolehan suara 20%, dalam tradisi PKS biasanya target yang diturunkan DPP, tidak akan jauh dari realita yang akan terjadi.(d). Iklan-iklan PKS di TV sangat cerdas, iklannya Cuma 3 hari (untuk mensiasati minimnya anggaran iklan) namun bisa didiskusikan para pakar dan masyarakat selama berminggu-minggu, termasuk berbagai macam bentuk iklan gambar yang cerdas dan kreatif, sms yang kata-katanya lucu, face book, RBT, dan berbagai macam cara dilakukan.
Namun, kenyataan sementara tidak seperti yang diharapkan, PDIP dan Golkar turun drastis, PKS masih naik walupun belum besar. ada beberapa catatan, sebagai bahan renungan yang perlu sama-sama diskusikan, terkait stagnannya perolehan suara PKS tahun 2009 ini, beberapa faktor yang tercatat dari pengamatan saya adalah:
1. Dari data sementara terlihat bahwa turunnya suara Golkar dan PDIP tidak lari ke PKS, namun turunnya suara dua partai besar tersebut, paling banyak didapatkan oleh Gerindra dan Hanura, dengan demikian keinginan DPP untuk memperluas pasar PKS dengan mencirikan inklusif dan warna-warninya PKS, belum berhasil, malah menurut saya mengakibatkan larinya pemilih yang dulu bersimpati dengan PKS, karena konsisten dan komitment yang kuat terhadap nilai-nilai perjuangan Islam.
2. Menurut saya para anggota dewan periode 2004 – 2009, baik di DPR maupun di DPRD belum mampu menunjukkan prestasi yang signifikan, yang terlihat adalah semangat yang sudah sangat baik untuk menolak korupsi, namun dari sisi profesionalismenya belum terlihat, apalagi berprestasi, sayangnya yang menjadi figur-figur utama untuk menarik massa pada kampanye 2009 ini, masih orang-orang lama yang belum berprestasi tersebut.
Sebagai contoh adalah DPRD Jakarta, PKS menjadi pemenang di pemilu 2004 di Jakarta, namun masyarakat boleh bertanya, apa dampak signifikan yang dirasakan masyarakat dengan kemenangan PKS di Jakarta tahun 2004. kalau alasannya orang nomor satu di DKI bukan kader PKS, seharusnya tidak menjadi alasan bagi PKS untuk berbuat maksimal, bukankah fraksi terbesar di DPRD PKS adalah fraksi PKS?, sekarang era Fauzi Bowo, terlihat kelambatan tim FOKE dalam menyelesaikan masalah, seperti banjir, kemacetan, rasa aman yang belum terwujud di tempat publik, namun fraksi PKS tidak bisa berbuat banyak?
3. Kaburnya pesan kampanye yang di usung, sampai kampanye berakhir, tidak kelihatan diferensiasi tawaran perbedaaan atau perubahan yang ditawarkan PKS jika PKS menang, apa yang berbeda dari Demokrat misalnya?, apa yang akan berubah jika PKS menang?, menurut saya sampai akhir kampanyepun tidak kelihatan.
4. Sistim pemilu dengan partai yang banyak dan suara terbanyak yang sekarang dilakukan juga mempunyai andil, kompetisi kapitalisme di sesama caleg PKS, jika caleg tertentu mempunyai banyak modal, maka pamflet-spanduk, dan beraneka ragam bentuk kampanyenya juga akan kentara, bahkan kita diperlihatkan pertarungan yang yang tidak sehat, ada anak muda kader PKS, mencalonkan kembali menjadi caleg, amunisinya sungguh luuaaar biasa, kader bolehlah bertanya darimana uangnya?, sementara ada ustadz yang bergelar Lc misalnya, kebetulan tidak mempunyai amunisi yang banyak, maka ustadz ini tidak bisa berbuat banyak, bahkan ada kasus caleg yang tidak mampu memberikan amunisi dan modal ke DPRa, tidak akan di kampanyekan oleh DPRa tersebut, apakah ini benar?, apakah kita sudah terjebak pada semangat kapitalisme (bekerja sesuai kehendak pemilik/yang memberikan modal)???, bukankah dulu kita pernah mendengar, ada seorang kader yang dicalonkan untuk menjadi kepala daerah, DPP berusaha mencarikan modal untuk pencalonan kader tersebut, kenapa sekarang seolah-olah setiap caleg harus berupaya sendiri dengan kemampuan sendiri, dimana semangat amal jama’i yang menjadi azas perjuangan dakwah ini?
5. di beberapa TPS yang saya amati, memperlihatkan kecendrungan pemilih lebih banyak memilih partai dari pada individu caleg, hal ini mengindikasikan bahwasanya pemilih tidak terlalu peduli dengan siapa caleg yang di calonkan partai, atau dengan kata lain pemilih lebih percaya partai daripada individu yang dicalonkan partai, kalau kondisi ini bisa di generalisir, maka seharusnya caleg tidak usah berkampanye dirinya, yang membuat pemilih jadi bosan/enek/mual, melihat banyaknya orang yang ambisi menjadi anggota legistatif, dana para caleg bisa dikumpulkan partai dan partai lebih fokus mengkampanyekan partai dan program-program yang akan di lakukan jika partai menang.
6. yang paling ditakutkan adalah hilangnya semangat keikhlasan dalam beramal, yang ada adalah semangat beramal yang disesuaikan dengan modal yang diberikan...(ma’af; saya berharap bukan seperti ini realitasnya)
Namun, apapun dia, kita perlu bersyukur, bahwasanya Allah masih memberikan kesempatan kepada PKS untuk memperbaiki diri, dan mulai sekarang mempersiapkan diri untuk tahun-tahun selanjutnya. Dan setiap kejadian yang menimpa dakwah ini pasti mempunyai hikmah yang baik, dan Allah memberikan yang terbaik kepada setiap umatnya.
Pendapat pribadi
Jakarta, 10 april 2009 (sehari setelah pemilihan legislatif 2009)
email:jaharuddin@gmail.com

saya lupa, brigas singkatan pa ya,yang jelas brinya brigade, gas...nya, apa ya, tapi wajah tema-teman kalau dibandingkan dengan wajah seakrang jauh beda ya, dulu masih mahasiswa, jadi ya...githu deh....

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus.
Dg tangannya yg lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus.
Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya.
Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk.
Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.
Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta.
Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya.
Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna.
Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya.
Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan.
Merasa tak berguna
dan tak ada seorang pun yg sanggup menolongnya
ada yg selalu membisiki hatinya. \"Bagaimana ini bisa terjadi padaku?\"
dia menangis.
Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa.
Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo\'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.
Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan.
Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan.
Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya.
Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang.
Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam kedalam jurang keputus-asaan.
Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta.
Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang.
Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit.
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya.
Dia berhenti dg terhormat.
Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile.
Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan.
Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar?
Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan?
Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan.
Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian.
Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian?
Berjalan sendirian?
Pulang-pergi sendirian?
Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian?
Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa.
Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar.
Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah,
dimana Yasmin musti belajar huruf Braile.
Dg sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg Susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya.
Selesai mengantar Yasmin
dia menuju tempat dinas.
Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin.
Lengkap dg seragam dinas security.
Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi.
Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya.
Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya.
Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang.
Sebab bagaimanapun juga Yasmin masih terpukul dg musibah yg di alaminya.
Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu.
Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan.
\"Saya buta, tak bisa melihat!\" teriak Yasmin.
\"Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana?
Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.\"
Burhan hancur hatinya mendengar itu.
Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan.
Mau tak mau Yasmin musti terima.
Musti mau menjadi wanita yg mandiri.
Burhan tak melepas begitu saja Yasmin.
Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus.
Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte.
Berjalan dg tongkatnya.
Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya,
di manapun dia berada.
Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri,
dg tenang Burhan pergi ke tempat dinas.
Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya.
Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi.
Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni.
Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja.
Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.
Hari-hari pun berlalu.
Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar,
dg mengendarai bus kota sendirian.
Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata,
\"saya sungguh iri padamu\".
Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya.
\"Anda bicara pada saya?\"
\" Ya\", jawab sopir bus.
\"Saya benar-benar iri padamu\". Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini seorang buta,
wanita buta,
yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya,
membuat orang lain merasa iri?
\"Apa maksud anda?\" Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. \"Kamu tahu,\" jawab sopir bus,
\"Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan.
Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus.
Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu.
Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ.
Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan melindungimu\".
Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin.
Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana.
Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan.
Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat;
kasih sayang yg membawa cahaya,
ketika dia berada dalam kegelapan.
***
Teman, kita ibarat orang buta.
Yg diperintahkan untuk mengabdi kpdNya ...bekerja dan berusaha
Kita adalah orang buta yg terus diberi semangat ..
Kita tak bisa melihat Alloh.
Tapi Alloh terus membimbing kita seperti cerita Yasmin
untuk memompa semangat kita .
Note :
Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang
(lalu) dia berkata: \"Inilah Tuhanku\"
Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata:
\"Saya tidak suka kepada yang tenggelam\".
( Q.S. 6:76 )
dari milis PSKTTI UI

alfian yang ditenggah, putra Aceh, yang selama di al inayah 2, kamarnya lt 2 di dekat kamar mas tonny (pengelola), saya surprise sekali, tanggal 20 mar 2009, secara kebetulan bertemu di saat kampanye PKS di lapangan wika duren sawit, ternyata alfian ditugaskan oleh the jakarta post, untuk meliput presiden pks tifatul sembiring. cukup lama kita bercerita. beliau pernah di gatra 3 tahun, trus sekolah lagi ke belanda 1 tahun, sekarang jadi jurnalis di the jakarta post. sukses selalu ya...

beliau pengelola PPM Al Inayah 2, saya sangat terkesan dengan semangatnya mas tonny yang selelu mengebu-gebu, sangat rapi dengan administrasi

mas, saiful ini bersama-sama dengan mas tonny dan ust. wasto, merupakan pengelola pondok pesantren mahasiswa al inayah 2 dramaga, bogor, kalau info dari fb beliau sekarang ada di riau, kabarnya pns dep tan

ustadz erry nugroho dan ustadzah rina eni anawati, banyak kenangan luar biasa bersama mereka...selama di ipb..wabil khusus KAMMI Daerah bogor, jika ada yang salah dari ana (jahar) mohon di ma'afkan ustadz dan ustadzah ya.
biasanya bangun siang, karena lagi di carita zaky pagi-pagi sudah dibangunkan, dan langsung mandi, jadi masih belum semangat, tapi setelah ketemu air laut zaky semangaaaat sekali
zaky lagi meneliti, apakah batu dipantai carita mengandung susu, atau batu ini enak seperti roti....?
Oleh: dr.Radiana D Antarianto.M.Biomed
Departemen Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
E-mail: dr.radiana.antarianto@gmail.com
Abstrak
Otot rangka adalah jaringan dinamis yang memiliki respon regenerasi sempurna dengan kemampuan memulihkan sitoarsitektur dalam periode 2 minggu. Keberadaan sel satelit sebagai sel induk (stem cell) otot rangka membuat proses regenerasi jaringan sempurna. Pada manusia persentase jumlah sel-sel satelit di otot rangka juga berkurang dengan bertambahnya umur (penuaan/proses degeneratif). Miopati yang berkaitan dengan penuaan (misal sarkopenia) memiliki defek regenerasi. Defek degenerasi pada otot rangka senilis disebabkan oleh lingkungan makro dan mikro. Penelitian sebelumnya menggunakan metode transgenik untuk peningkatan ekspresi Igf-1 menunjukkan peningkatan proleferasi sel satelit. Mobilisasi sel-sel induk dari luar otot, dan perbaikan regenerasi otot rangka mencit tua. Isoform IGF-1 yang bekerja lokal di otot rangka meningkatkan pertumbuhan dan diferensiasi otot rangka, mencegah atrofi otot akibat penuaan dan potensiasi regenerasi pasca cedera.
Kata kunci: IGF-1, sel satelit, regenerasi otot rangka, penuaan
Oleh: dr.Radiana D Antarianto.M.Biomed
Departemen Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
E-mail: dr.radiana.antarianto@gmail.com
Abstrak
Fraktur tulang panggul (kolumna atau caput femoris), pergelangan tanggan dan vertebrae adalah komplikasi yang sering terjadi pada pasien osteoporosis. Terapi operasi dengan pemasangan prostese sendi dan tulang dapat menimbulkan komplikasi berupa reaksi penolakan tubuh, infeksi/sepsis dan resiko operasi yang besar untuk pasien usia lanjut. Alternatif terapi dengan injeksi sel induk dari sum sum tulang atau darah perifer pasien kini mulai dikembangkan. Bidang lainnya yang juga memanfaatkan sel induk adalah rekayasa jaringan (tissue engginering) yang dapat mendesain jaringan atau organ tiga dimensi ex vivo yang kemudian di transplantasi, mengantikan tulang yang patah.
Kata kunci: sel induk (stem cell), rekayasa jaringan (tissue enginering), fraktur tulang osteoporotik.

review article by dr.Radiana D A,M.Biomed
Abstract
Identification of human breast cancer stem cells (BrCa SCs) changed the landscape of breast cancer treatment. Solid tumours such as breast cancers contain a small fraction of self-renewing tumourigenic cells that give rise to and maintain the bulk of the tumour mass. This review presents highlights on breast cancer stem cells and discusses strategies and limitations to accomplishing the ultimate goal of eradicating breast cancer stem cells.
Introduction
Breast cancer has been, and still is, one of the most aggressive female killers. In 2008, about 40,480 women will die from breast cancer in the United States.1 The chance of developing invasive breast cancer at some time in a woman's life is about one in eight (12%).1 The incidence of the disease has apparently increased throughout the world during the past century. Women living in North America have the highest rate of breast cancer in the world. Caucasian women in the Western world have a considerably higher breast cancer risk than Asian women in China or Japan.2 The incidence of breast cancer in Indonesia, according to Globocan data, IARC 2002, is 26 per 100,000 women.3
Although the theory of cancer stem cells dates back to more than 50 years ago,4 the existence of the first bona fide tumourigenic cell compartment was not demonstrated until 1994, when the acute myelogenous leukaemia stem cell (LSC) was identified and characterized.5 However, researchers doubted the existence of an analogous cell type in solid tumours. It was believed that every cell from a tumour had an equal likelihood of seeding a secondary cancer as long as it was in the correct microenvironment.
However, in 2003, an influential report describing the prospective identification of human BrCa SCs changed the landscape of breast cancer research.6 Most researchers now consider that solid tumours such as breast cancers contain a small fraction of self-renewing tumourigenic cells that give rise to and maintain the bulk of the tumour mass. Successfully targeting these cancer stem cells for eradication therefore requires a better understanding of how a good stem cell could go bad in the first place. This review presents highlights on the research of breast cancer stem cells, and discusses strategies for and limitations to accomplishing the ultimate goal of eradicating BrCa SCs.
Identification of Breast Cancer Stem Cells
Stem cell is defined as a cell with three distinct properties: self-renewal, the capability to develop into multiple lineages, and the potential to proliferate extensively. Despite the growing evidence of stem cell therapy for degenerative disease such as myocardial infarction or cerebrovascular accident, it is now known that stem cells exist in tumour bulk mass; they are the initiating cells that cause cancer and maintain tumour bulk mass. The paper by Al-Hajj et al provides a major step forward with the identification of human breast cancer initiating cells (BrCa SCs) through reliable xenograft assay that enabled the injection of single-cell suspensions from human breast cancer tissue into the mammary fat pad of genetically engineered immune-deficient mice.6 Breast cancer tissue obtained from nine samples (metastatic and primary breast tumours) was sorted by distinguished cell surface markers using a fluorescence activated cell sorting (FACS) machine. Fragments of breast cancer tissue containing haematopoetic, endothelial, mesothelial and fibroblast cell lineage marker (Lin+) were separated first from Lin− fragments. Al-Hajj et al then used four cell surface markers (adhesion molecules CD44 and CD24, a breast/ovarian cancer specific marker B38.1, and the epithelial-specific antigen [ESA]), whose expression is heterogeneous in breast cancer tissue, to sort into expressing and nonexpressing fractions, alone or in combination. The breast cancer initiating capacity of each cell population was determined by the mice xenotransplant assay.
All mice injected with either CD44+, B38.1+ or CD24−/low generated palpable tumours in 12 weeks, whereas none of the CD44− or B38.1− injections caused tumours. For three samples, CD44+CD24 /low fractions were subdivided by expression of ESA: ESA+ cells generated breast tumours in mice, whereas ESA cells did not. ESA+ represented a minor subpopulation (2%), and dilution analysis showed that breast cancer initiating activity was enriched by 50-fold in this fraction. Tumours in mice contained the same complex mixture of ESA , CD44− and CD24+ cells as tumours from the original donor. These results conclusively demonstrate that a rare breast cancer stem cell is the only cell type capable of establishing human breast cancer and re-establishing functionally heterogeneous breast cancer after transplantation into mice. Moreover, the BrCa SCs express unique cell surface markers that enable prospective isolation.7
At cell division, the BrCa SC can self-renew as well as make progeny that acquire maturation markers and lose the ability to initiate tumour growth. This process is very similar to the process whereby normal stem cells can both self-renew to maintain the stem cell pool and also produce differentiated progeny to create the mature cell types specific to that organ. Thus, breast cancer cells retain remnants of normal developmental programmes.7
Ponti and colleagues employed a similar approach to derive mammospheres from human breast cancers.8 Mammosphere cells were undifferentiated but, interestingly, a large majority had the same CD44+CD24− phenotype reported by Al-Hajj and colleagues. When transferred to differentiating culture conditions, mammospheres produced cells of both luminal and basal/myoepithelial lineages. Mammospheres initiated cancers in the cleared mammary fat pad of immunodeficient mice at 1,000-fold greater dilutions than established breast cancer–derived cell lines. Following enzymatic dissociation, 10% to 20% of cells from primary cancer–derived mammospheres formed secondary mammospheres, and several cultures were serially expanded for more than 40 passages, proving a capacity for long-term self-renewal. Mammospheres from more aggressive cancers formed a larger number of secondary mammospheres, suggesting a greater capacity for self-renewal.
The results of both Al-Hajj and Ponti suggest that breast cancer cells with the capability for long-term self-renewal are enriched within the CD44+CD24− subset. We should not, however, infer from this that the CD44+CD24− subset of cancer cells is a homogeneous population of cancer stem cells; instead, this population most probably represents a heterogeneous mix of cancer stem cells and early progenitor cells.9 Therefore, we will infer that the CD44+CD24− subset of cancer cells is a subset of putative BrCa SCs.
Several studies that have attempted to repeat and expand on the CD44+/CD24− putative BrCa SCs have thus far been inconclusive. In 2004, a clinical study reported that there was no statistically significant CD44 or CD24 staining in primary breast cancer sections in relation to tumour grade, type or size. The authors postulated that one difference is that they used primary sections, whereas the study by Al-Hajj et al used cell sorting to remove Lin− cells and subsequent flow cytometry. However, two more recent reports have now confirmed, both in breast cancer–derived cell lines and breast tumours, that CD44+/CD24− phenotypes are not necessarily associated with patient outcome or the ability to metastasize.10,11
In 2007, Shipitsin and coworkers found that CD24 is expressed on more differentiated cells whereas CD44 is expressed on more progenitor-like cells.12 Specifically, they found that breast cells of the CD44+/CD24− phenotype express genes that are involved in cell motility and angiogenesis, are more mesenchymal and motile, and are predominately oestrogen receptor negative. Breast cancer cells with a basal-like or mesenchymal-like phenotype are present in CD44+/CD24− cells. In contrast, cells with a more luminal, epithelial appearance (luminal differentiated mucin-1-positive, oestrogen receptor/progesterone receptor–positive, Gata3-positive cells) were largely CD44−/CD24+. This study suggests another interesting interpretation of CD24 and CD44 as markers of breast cancer cells; perhaps CD44+ cells are predominately basal-like and therefore are present in poor prognosis basal-like tumours, whereas CD24+ cells are luminal-like and therefore present in more differentiated luminal-type cancers.
Origin of Breast Cancer Stem Cells
One of the most important questions is whether BrCa SCs originate from normal adult mammary epithelial stem cells (MESCs) or from a transit-cell population in the normal breast. Breast cancer stem cells, and the cancer they generate, might have very different characteristics depending on which of these normal populations the BrCa SCs arise from — for instance, it could mean the difference between being poorly differentiated and highly aggressive, or relatively well differentiated and noninvasive.12
Some experimental evidence supports the hypothesis that normal stem cells are indeed the primary targets for tumourigenesis in the adult mammary gland, and form the cancer stem–cell population.13,14 There are several mechanisms that might explain the link between MESCs and the risk of neoplasia. Stem cells are thought to be long-lived and have a large replicative potential. This means that not only will they persist in the body long enough to accumulate the many mutations that are required to change a normal cell into one with neoplastic potential (a putative cancer stem cell), but they also have the proliferative capacity to actually generate a cancer mass. If these characteristics persist when normal stem cells progress to being putative cancer stem cells, they might be resistant to traditional chemotherapy and therefore have the ability to survive an initial cancer kill and generate cancer transit cells, which might allow the cancer to regrow once the chemotherapy regimen has ended.13
Stem cells might also explain ‘field cancerization’.15 This concept suggests that preneoplastic fields of cells might develop because of their clonal origin from an original cell with a mutation — for instance, the loss of a cancer-suppressor gene. Such a mutation would be phenotypically silent, but would predispose all cells in the field to neoplastic development, even if they were relatively short-lived (compared with stem cells). So, even a single mutation in a stem cell could generate a cancer-prone field, leading to apparently independent cancers arising from nearby sites. The importance of
this would relate to the rate of turnover of transit amplifying cells in the field — in other words, whether they are present long enough for additional mutations to arise. Cells in the preneoplastic field have an advantage over cells outside the field, but additional hits still need to occur. The most extreme case of field cancerization would be the inheritance of a germline mutation in a cancer suppressor gene, such as BRCA2 or TP53. In that case, the field comprises the whole mammary gland.
Transforming Factors to Breast Cancer Stem Cells
The putative BrCa SCs were driven by an activated molecular pathway that makes them resemble normal stem cells. Women whose breast tumours are largely made up of these ‘stem-like’ cells are at higher risk of recurrences. A study by Shipitsin showed that CD44+ cells were driven by the abnormal activated TFG-β1 (transmembrane receptor protein tyrosine kinase) pathway.12
There is increasing evidence that aberrant activation of the Wnt signalling pathway may result in the initiation of self-renewal of BrCA SCs.17 Caroline Alexander and colleagues showed that progenitor cells as a cell of origin for Wnt pathway–induced mammary tumourigenesis come from the identification of an increased mammary progenitor population, as assessed by the expression of Sca-1 and keratin 6, in both Wnt-1 mammary tumour virus–induced hyperplasias and tumours.17 Keratin 6 and Sca-1 appear to be expressed in mammary gland progenitor cells.16 Analysis for loss of heterozygosity of the tumour suppressor gene PTEN in hyperplasias and tumours present in mice strongly supported the hypothesis that a bipotential progenitor cell was the cell of origin.
Mammary tumours that arose in mice expressing the Neu, H-Ras or Polyoma middle T antigen transgenes driven by the MMTV promoter did not exhibit a similar increase in the Sca-1 and keratin 6-positive progenitor cell population.17 Furthermore, a recent study suggested that the MMTV-Neu tumours arose from parity-induced mammary epithelial cells, whereas MMTV-Wnt-1 tumours originated from ductal epithelial subtypes.17 These studies demonstrated that the enrichment of a particular cell population in a hyperplasia or tumour may be highly dependent on the type of initiating event as well as the cell type in which these events occur.
Aberrant Notch regulation may cause breast cancer.18 Transgenic mice expressing MMTV-Notch 4 develop mammary tumours within 4 to 6 months. The tumours in these mice were highly malignant and metastatic. It was speculated that the role of Notch 4 in tumourigenesis is dependent on the genetic background and the timing of Notch 4 expression with respect to the stage of mammary gland development. Whether activation of Notch 4 results in the expansion of specific mammary progenitors and induction of tumourigenesis remains to be established, but it appears likely. It is likely that the Notch pathway will exert pleiotropic effects on both stem cell self-renewal and differentiation. Recent support for this hypothesis has come from studies of Notch signalling in mammosphere cultures by Dontu et al.19
The Hedgehog (Hh) signalling pathway is another example of a pathway essential for development whose aberrant expression results in a variety of different human cancers, such as breast cancer and mammary ductal hyperplasias.20 However, the relation between the Hh signalling pathway and BrCa SCs has yet to be established.
The importance of the regulatory role of the mammary stroma and microenvironment in normal development as well as carcinogenesis has been known for many years. Kuperwasser et al have revisited this idea and shown that premalignant mammary epithelial cells adopt a malignant growth pattern when cultured with cancer-derived stromal cells or when transplanted to irradiated mammary fat pads, but not when cultured in the presence of normal mammary stromal cells or transplanted to nonirradiated fat pads.21 The precise mechanisms mediating cancer promotion in mammary stroma remain unclear; possibilities include alterations in expression of growth factors and matrix remodelling enzymes, the recruitment of inflammatory cells and the elaboration of viral oncoproteins.9
Possible Mechanism in Eradication of Breast Cancer Stem Cells
Whether stem cells themselves accumulate mutations to generate neoplasia, or whether they establish a clone of cancer-prone cells, they make attractive therapeutic targets. Targeting stem cells, or stem cell–like cells, would target the cell of origin of the cancer and have the additional advantage of enabling treatment to be based on phenotype rather than genotype. In other words, cancers would be treated on the basis of a shared property that is characteristic of all mammary stem cells. Of course, to avoid side effects, this property would need to be absent from other stem cells.
In designing specific regimens for cancer stem cells, several strategies are considered:
1) Anti–stem cell therapy: Treatment of postmenopausal women, or younger women from an at-risk group with an anti–breast stem cell therapy might severely deplete or even eliminate the breast cancer–prone cell population, with the disadvantage of mammary gland atrophy.15
2) RNA interferance: Methods of disrupting the target genes of interest within cancer models which might cause stem cell death or promote terminal differentiation can be tested in various mammary cancers.15
3) Targeting pathways that transform normal MESCs into BrCa SCs, such as the TGF-β pathway.12
4) Interferance with cancer stem cell–specific survival pathways: For example, strategies that inhibit survival mechanisms or the oxidative state of the cell may be selectively cytotoxic to BrCa Scs.23
5) Antibody-based or ligand-based therapy also appears to be a promising way to destroy cancer stem cells. A small number of target antigens on cancer stem cells have been described, and with further characterization of purified populations, additional targets are likely to become available. It remains to be determined, however, whether these and other targets will distinguish cancer stem cells from normal tissues.15
Eradication of Breast Cancer Stem Cells vs Success of Therapy
First, we must understand how therapies that effectively target the bulk of tumour cells fail to eradicate cancer stem cells. The reasons for this phenomenon may provide important clues for developing more effective and comprehensive regimens to attack both the tumour stem cells and the bulk of the disease.9,23
The recognized property of stem cells that make cancer stem cells particularly difficult to kill is that BrCa SCs reside in a largely quiescent state with regard to cell-cycle activity. Consequently, typical cytotoxic regimens that target rapidly dividing cells are unlikely to eradicate such cells.23
Selective targeting will therefore require regimens that kill cells independently of the cell cycle, or that selectively induce cycling of cancer stem cells. Another common feature of stem cells is the expression of proteins associated with the efflux of xenobiotic toxins (eg, multidrug-resistant proteins and related members of the ATP-binding cassette [ABC] transporter family). A variety of cancer cells, particularly during relapse, express such proteins, thus providing resistance to many chemotherapeutic agents.22,23
A further concern is that normal stem cells and progenitor cells may prove to be more sensitive than cancer stem cells to the effects of chemotherapy. It is critical to understand how cancer stem cells differ from normal stem cells, particularly with regard to mechanisms controlling cell survival and responses to injury. Ideally, a therapy should target pathways uniquely used by cancer stem cells to resist insults or to maintain steady-state viability.23
If a clinical remission is achieved, the presence of residual drug-resistant cancer stem cells can initiate a relapse. Hence, we must develop better methods for detection and quantitation of cancer stem cells in patients receiving cancer therapy.9
As shown in the haematopoietic system, leukaemic stem cells may be heterogeneous with respect to their self-renewal potential and quiescent state. This is also likely to be true in solid tissue cancers as well. Understanding the behaviour of cancer stem cells should better enable the design of therapies targeted at the short-lived as well as long-lived cancer stem cells. As demonstrated in breast cancer, gene profiling is a powerful tool in identifying different types of breast cancer with respect to response to therapy, relapse and metastatic potential. However, it may be necessary to profile the tumour stem cells from these different types of breast cancer as well in order to determine more appropriate therapeutic approaches.23
Most likely there will not be a single magic bullet. Once unique pathways are identified, combination therapy may be more effective than single therapy, based on the observation that cancer stem cells may be heterogeneous with respect to their quiescent state and proliferation capacity as well as the mechanisms underlying their transformation. Therefore, the future of cancer treatment may require individualized combination therapies targeting various unique pathways that are active in cancer stem cells.
Conclusion
• Cell surface markers to identify putative breast cancer stem cells are the CD44+/CD24− subset in breast cancer tissue.
• The origins of putative breast cancer stem cells are mammary epithelial stem cells and transit amplifying cells.
• Factors transforming MESCs into putative BrCa SCs are aberrent signalling pathways: TGF-β, Wnt, Notch and Hh. Another factor is the interaction with mammary stroma.
• Possible mechanisms of eradication are anti–stem cell therapy, RNA interference, interfering with signalling pathways and immunotherapy (antibody ligand–based therapy).
• Successful therapy considers eradication of BrCa SCs as a significant factor but not the only factor in treating the patients.
Acknowledgement
The author wishes to thank Professor Jeanne Adiwinata Pawitan, PhD, from the Department of Histology, Faculty of Medicine, University of Indonesia, for her guidance in writing this article, for providing valuable insight in the comprehension of the cytogenetic basis of breast cancer and cancer stem cells, and for giving constructive advice on scientific writing.
About the Author
Dr Antarianto, is a junior academic staff at the Department of Histology, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Indonesia.
E-mail: dr.radiana.antarianto@gmail.com
References:
1. American Cancer Society. What are key statistics for breast cancer? Available at: http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI_2_4_1X_What_are_the_key_statistics_for_breast_cancer_5.asp. Accessed on November 21, 2007.
2. Key TJ, Verkasalo PK, Banks E. Epidemiology of breast cancer. Lancet Oncol 2001; 2:133-140.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Available at: http://www.depkes.go.id/en/2104ea.htm. Accessed August 11, 2008.
4. Clarke MF, Becker MW. Stem Cells: The real culprits in cancer? Available at: http://www.sciam.com/article.cfm?id=stem-cells-the-real-culpr-2006-07. Accessed November 21, 2007.
5. Lapidot T, Sirard C, Vormoor J, et al. A cell initiating human acute myeloid leukaemia after transplantation into SCID mice. Nature 1994;367:645-648.
6. Al-Hajj M, Wicha MS, Benito-Hernandez A, Morrison SJ, Clarke MF. Prospective identification of tumorigenic breast cancer cells. Proc Natl Acad Sci USA 2003;100:3983-3988.
7. Dick JE. Breast cancer stem cells revealed. PNAS 2003;100:3547-3549.
8. Ponti D, Costa A, Zaffaroni N, et al. Isolation and in vitro propagation of tumorigenic breast cancer cells with stem/progenitor cell properties. Cancer Res 2005;65:5506-5511.
9. Lynch MD, Cariati M, Purushotham A. Breast cancer, stem cells and prospects for therapy. Breast Cancer Res 2006;8:211.
10. Abraham BK, Fritz P, McClellan M, Hauptvogel P, Athelogou M, Brauch J. Prevalence of CD44+/CD24-/low cells in breast cancer may not be associated with clinical outcome but may favor distant metastasis. Clin Cancer Res 2005;11:1154-1159.
11. Sheridan C, Kishimoto H, Fuchs RK, et al. CD44+/CD24− breast cancer cells exhibit enhanced invasive properties, an early step necessary for metastasis. Breast Cancer Res 2006;8:R59.
12. Shipitsin M, Campbell LL, Argani P, et al. Molecular definition of breast tumor heterogeneity. Cancer Cell 2007;11:259-273.
13. Fillmore C, Kuperwasser C. Human breast cancer stem cell markers CD44 and CD24: Enriching for cells with functional properties in mice or in man? Breast Cancer Res 2007;9:303.
14. Jordan CT, Guzman ML, Noble M. Cancer Stem Cells. N Engl J Med 2006;355:1253-1261.
15. Smalley M, Ashworth A. Stem Cells and Breast Cancer: A Field in transit. Nature 2003;3:832-845.
16. Smith GH, Mehrel T, Roop DR. Differential keratin gene expression in developing, differentiating, preneoplastic, and neoplastic mouse mammary epithelium. Cell Growth Differ 1990;1:161-170.
17. Liu BY, McDermott SP, Khwaja SS, Alexander CM. The transforming activity of Wnt effectors correlates with their ability to induce the accumulation of mammary progenitor cells. Proc Natl Acad Sci USA;2004:101:4158-4163.
18. Callahan R, Raafat A. Notch signaling in mammary gland tumorigenesis. J Mammary Gland Biol Neoplasia 2001;6:23-36.
19. Dontu G, Jackson KW, McNicholas E, Kawamura MJ, Abdallah WM, Wicha MS. Role of Notch signaling in cell-fate determination of human mammary stem/progenitor cells. Breast Cancer Res 2004;6:R605-R615.
20. Lewis MT. Hedgehog signaling in mouse mammary gland development and neoplasia. J Mammary Gland Biol Neoplasia 2001;6:53-66.
21. Kuperwasser C, Chavarria T, Wu M, et al. Reconstruction of functionally normal and malignant human breast tissues in mice. Proc Natl Acad Sci USA 2004;101:4966-4971.
22. Dingli D, Michor F. Successful therapy must eradicate cancer stem cells. Stem Cells 2006;24:2603-2610.
23. Behbod F, Rosen JM. Will cancer stem cells provide new therapeutic targets? Carcinogenesis 2005;26:703-711.
True/False Questions
1. The lifetime chance of a woman developing breast cancer is about 12%. (T)
2. Asian women have a higher rate of breast cancer than Caucasians. (F)
3. The acute myelogenous leukaemia cell was the first tumourigenic cell identified. (T)
4. Stem cells have the potential for self-renewal, developing into multiple lineages and extensive proliferation. (T)
5. Human breast cancer stem cells have been found to produce breast cancer when transplanted into mice. (T)
6. The CD44+CD24− subset of cancer cells is a homogeneous population of cancer cells. (F)
7. Putative breast cancer stem cells originate from mammary epithelial stem cells and transit amplifying cells. (T)
8. Typical cytotoxic regimens that target rapidly dividing cells are likely to eradicate breast cancer stem cells. (F)
9. Gene profiling is useful in identifying the metastatic potential of a particular type of breast cancer. (T)
10. Aberrant signalling pathways of TGF-β, Wnt, Notch and Hedgehog can transform mammary epithelial stem cells into putative breast cancer stem cells. (T)

"Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suufering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved"
(Karakter tidak bisa berkembang di dalam kemudahan dan kecukupan. Hanya melalui pengalaman cobaan dan penderitaan, jiwa diperkuat, visi menjadi bersih, ambisi diilhami, dan sukses dapat dicapai)
pernyataan diatas perkataan Helen Keller (1880-1968). wanita luar biasa, ia menjadi buta dan tuli di usia 19 bulan, namun berkat bantuan keluarganya dan bimbingan Annie Sullivan (yang dapat melihat secara terbatas) kemudian berhasil menjadi manusia buta tuli pertama yang lulus dengan predikat cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904.
sumber: Inspiring words, hal 21-22

Kata-kata tanpa tindakan adalah pembunuhan idealisme. Hanya tindakan yang memberi kekuatan pada kehidupan, dan hanya self control yang membuat sebuah tindakan menjadi mempesona (Paul Richter)
dalam Inpiring word hal. 126.



Seorang anak laki2 tunanetra duduk di tangga sebuah bangunan dengan sebuah topi terletak di dekat kakinya. Ia mengangkat sebuah papan yang bertuliskan: 'Saya buta, tolong saya.' Hanya ada beberapa keping uang di dalam topi itu.
Seorang pria berjalan melewati tempat anak ini. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan menjatuhkannya ke dalam topi itu. Lalu ia mengambil papan, membaliknya dan menulis beberapa kata. Pria ini menaruh papan itu kembali sehingga orang yang lalu lalang dapat melihat apa yang ia baru tulis.
Segera sesudahnya, topi itu pun terisi penuh. Semakin banyak orang memberi uang ke anak tuna netra ini. Sore itu pria yang telah mengubah kata-kata di papan tersebut datang untuk melihat perkembangan yang terjadi. Anak ini mengenali langkah kakinya dan bertanya, 'Apakah bapak yang telah mengubah tulisan di papanku tadi pagi? Apa yang bapak tulis?'
Pria itu berkata, 'Saya hanya menuliskan sebuah kebenaran. Saya menyampaikan apa yang kamu telah tulis dengan cara yang berbeda.' Apa yang ia telah tulis adalah: 'Hari ini adalah hari yang indah dan saya tidak bisa melihatnya.'
Bukankah tulisan yang pertama dengan yang kedua sebenarnya sama saja?
Tentu arti kedua tulisan itu sama, yaitu bahwa anak itu buta.
Tetapi, tulisan yang pertama hanya mengatakan bahwa anak itu buta. Sedangkan, tulisan yang kedua mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka sangatlah beruntung bahwa mereka dapat melihat. Apakah kita perlu terkejut melihat tulisan yang kedua lebih efektif?
Moral dari cerita ini: Bersyukurlah untuk segala yang kau miliki. Jadilah kreatif. Jadilah innovatif. Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda dan positif.
Ajaklah orang-orang lain menuju hal-hal yang baik dengan hikmat. Jalani hidup ini tanpa dalih dan mengasihi tanpa rasa sesal. Ketika hidup memberi engkau 100 alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa engkau memiliki 1000 alasan untuk tersenyum.
Hadapi masa lalumu tanpa sesal.
Tangani saat sekarang dengan percaya diri.
Bersiaplah untuk masa depan tanpa rasa takut.
Peganglah iman dan tanggalkan ketakutan.
Orang bijak berkata, 'Hidup harus menjadi sebuah proses perbaikan yang terus berlanjut, membuang kejahatan dan mengembangkan kebaikan... Jika engkau ingin menjalani hidup tanpa rasa takut, engkau harus memiliki hati nurani yang baik sebagai tiketnya.
Hal yang terindah adalah melihat seseorang tersenyum..
Tapi yang terlebih indah adalah mengetahui bahwa engkau adalah alasan di belakangnya! !!
May God bless you all....

Yth rekan-rekan,
Mohon bantuannya untuk memberikan pekerjaan kepada teman kami di atas yang kehilangan pekerjaannya bulan lalu, dikarenakan kontrak pekerjaannya sudah selesai,
Berhubung yang bersangkutan masih perlu menafkahi keluarganya serta membayar berbagai cicilan kebutuhan rumah tangga serta hutang-hutang lainnya kepada berbagai pihak, maka ia sangat berharap bisa mendapatkan pekerjaan kembali.
Pengalaman yang bersangkutan selama bekerja adalah yang berhubungan dengan kemasyarakatan juga di Marketing walaupun kebanyakan apa yang dijanjikan sering kali tidak dapat dilaksanakan dan terlalu banyak bicara.
Bila ada pekerjaan yang cocok dibagian marketing, mohon diberikan kesempatan, bila tidak ia bersedia untuk bekerja di bagian Cleaning Service, petugas keamanan (pernah menjadi tentara, tapi kemudian dikeluarkan karena tidak berani maju ke medan perang dan lebih memilih memasak di kantin prajurit).
Di atas foto dari kawan kami tersebut yang kini kebingungan karena kehilangan pekerjaan.

“Janganlah Melawan kaidah-kaidah yang berlaku di alam ini, sebab ia akan mengalahkanmu. Akan tetapi, tundukkanlah ia, manfaatkanlah ia, alihkan arusnya, dan gunakanlah sebagiannya untuk menaklukkan sebagian yang lain. Setelah itu tunggulah kemenangan yang tidak lama lagi akan datang kepadamu” (Mu’tamar Khamis)
akhir 2008, dr. Radiana DA,M.Biomed, diundang untuk presentasi poster penelitian tentang stem cell di kota leipzig, Jerman
sedang ada pameran di aceh, sekaligus shilaturahmi dengan relasi di aceh, ditemani bapak arafar SE, kita jalan-jalan. jazakallah pak arafar.
bersama ust. Bramadji Abdurahman (Manager HRD Pustaka Al-Kautsar, diajak ke Ucok Durian oleh teman-teman cabang Medan, saat kunjungan kerja ke Medan.
desember 2008, saya berkunjung ke cabang batam, di foto bersama Ade Verid (Kepala Cabang Batam), Ahmad Fauzi Nst, ST, dan Nanik Wahyuni.

Apa yang seharusnya saya lakukan?
Pertanyaan:
yth bapak Mario.
Saya karyawan swasta berumur 28 th, sudah 4 tahun bekerja di perusahaan skala menengah. selama 4 tahun alhamdulillah karir saya bagus, dengan pendapatan, diatas rata2 bila dibandingkan dengan perusahaan sejenis.
Nah saya merasa akhir-akhir ini tidak memiliki tantangan lebih, terutama peluang mobilitas vertikal. kemudian saya juga merasakan adanya hambatan komunikasi antara saya dan direktur, saya melihat perusahaan ini masih punya peluang besar asal dikelola dengan lebih baik, tapi sepertinya direktur tidak bisa mengikuti perkembangan manajemen yang lebih baik dan lebih modern, hal lain adalah saya belum yakin apakah saya akan menghabiskan umur saya di perusahaan yg seperti ini?
Apa yang seharusnya saya lakukan? apakah ini karena ego saya, atau apakah bijak keluar mencari tantangan yang lebih menantang? atau tetap di sini dengan menerima apa adanya?.
Namun saya tidak putus asa, selagi saya masih di perusahaan sekarang, saya akan tetap memberikan yang tebaik untuk perusahaan.
Jaharuddin (Karyawan swasta di Jakarta Timur)
--------------------------------------------------------------------------------
Mario Teguh menjawab:
Terima kasih atas pertanyaan Bapak yang baik.
Super sekali Pak Jaharuddin! Saya turut bangga dengan pribadi berkompetensi super yang juga memiliki pandangan positif seperti Bapak.
Pak Jaharuddin yang sangat profesional, sebetulnya, cara termudah untuk mencapai keprimaan pribadi adalah dengan menjadi pribadi impian kita, Super Self kita.
Setiap pribadi mengawali keinginannya untuk mencapai keprimaan diri dengan sebuah imajinasi yang besar. Jadi, prioritaskan yang positif. Jangan boroskan waktu dan tenaga untuk hal-hal yang tidak mendekatkan diri kita kepada keberhasilan besar. Jangan berlama-lama memikirkan resiko dari sebuah pilihan bertindak. Fokuskan penggunaan waktu pada melayani ketertarikan Anda untuk berhasil.
Pak Jaharuddin, pilihan-pilihan perubahan berkelas demikian terbuka bagi Anda. Sebagian perubahan harus ditunggu. Dan sebagian lain yang lebih penting -harus dilakukan.
Hampir semua orang yang sedang tertawan dalam borgol-borgol karir – membiarkan diri mereka menua dalam perasaan terseret-seret oleh kesadaran bahwa mereka harus melakukan sesuatu, tetapi tidak pernah tegas menemukan kekuatan untuk membuat keputusan perubahan itu. Memang ada keputusan-keputusan yang tidak bisa didahului kecuali ditunggu, seperti kematangan alamiah mangga di dahan tempatnya menggantung. Tetapi apakah kita tahu pasti bahwa kita sedang menunggu sebuah kematangan? Ataukah waktu kematangan bagi kita itu sudah lama lewat, dan sekarang sebetulnya kita menemani mangga yang sedang membusuk?
Pak Jaharuddin, jika pilihan terbaiknya adalah pelayanan terbaik pada atasan, maka pastikan atasan mendapatkan kepedulian yang tulus dari Anda. Karena kepedulian Anda, menentukan kekuatan dari pesan Anda.
Semakin tulus Anda dalam menyampaikan kepedulian Anda bagi perbaikan dan kebaikan, akan semakin kuat pesan perubahan yang Anda sampaikan. Karena, ketika Anda menyampaikan pesan dalam suasana hati yang tulus dalam kepedulian, Anda akan tampil dan terdengar lebih ekspresif. Dan dengannya, pesan Anda akan memiliki nilai dengar dan nilai anutan yang lebih berdampak.
Begitu dulu ya Pak Jaharuddin?
Salam Super
Mario Teguh
sumber:http://www.mtsuperclub.com/content/index.php?option=com_content&task=view&id=464&Itemid=99999999
melalui forum ini saya sangat berterima kasih atas nasehat bapak Mario Teguh, semoga Allah memberikan limpahan pahala kepada bapak, dan Allah memudahkan setiap langkah bapak. Amin.
salam super.
jaharuddin

Sudah belasan tahun saya mengenal sosok dan pribadi Zulhamli Alhamidi tanpa pernah menemukan kesalahannya sedikitpun kecuali satu kali ini saja. Saya prihatin dan bertanya-tanya apakah manusia memang tidak boleh khilaf suatu saat? Tulisan ini saya niatkan dalam rangka memenuhi salah satu hak-hak ukhuwwah beliau sebagai saudara saya sesama muslim.
Uda Zul, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak Rohis sejak jadi aktivis da’wah di kampus UNJA. Saya pun sekampus dengan beliau, cuma saya FE 93 sedangkan beliau Fapet 94. Tapi sejak sama-sama ngantor di Fraksi PKS, saya ikut memanggilnya Uda Zul karena memang usia beliau lebih tua 1 tahun dari saya. Saya juga satu majelis ta’lim dengan istri beliau, Mbak Lisa.
Da Zulhamli adalah anggota dewan paling miskin di DPRD Kota Jambi menurut ekspos LHKPN versi BPK tahun 2004 dengan asset pribadi ‘hanya’ Rp.3,5 juta saja (diikuti 3 rekan F-PKS lainnya yang sama-sama termasuk paling miskin, selain mas Hizbullah). Berita itu juga bikin polemik di koran lokal saat itu, karena Uda Zul memang sangat sederhana. Selain masih tinggal numpang di rumah mertua walau sudah punya 2 anak, Da Zul juga punya motor ‘butut’ yang selalu menemaninya ke manapun. Bahkan motor tua milik Da Zul sempat menginspirasi saya untuk bikin puisi (maaf file-nya belum ketemu). Dan motor tuanya itu sempat patah jadi dua saat suatu malam beliau ditabrak oleh pemuda yang sedang ngebut di dalam gang dalam perjalanan beliau menuju tempat Mabit ikhwan.
Ada dua momen yang paling berkesan tentang Da Zul dalam interaksinya dengan saya. Pertama, saat suatu hari saya datang ke Fraksi pagi-pagi dalam keadaan sangat lapar dan lemah karena tidak makan malam dan belum pula sarapan padahal saya sedang hamil. Dalam keadaan pusing dan gemetar karena benar-benar tak sanggup berdiri dan melangkah kuatir mendadak pingsan, Uda Zul tiba-tiba muncul di Fraksi. Saya sempat sungkan dan malu ingin meminta tolong Uda Zul memesan makanan ke kantin, tetapi pandangan mata saya sudah mulai agak gelap. Akhirnya dengan suara agak pelan, terucap juga permintaan tolong itu ke Da Zul. Saya pikir kalau saya akhirnya pingsan, bukankah Da Zul juga yang repot? Saya sangat merasa kurang sopan menyuruh seorang bapak dua anak, apalagi dengan level kaderisasi lebih tinggi dari saya, melakukan hal sepele seperti beli sesuatu ke kantin. Tapi alhamdulillah Da Zul benar-benar membantu saya pagi itu.
Yang kedua, saat polemik Pansus Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Penerapan PP.41/2007 di mana saya dipercaya menjadi Ketua Pansus di DPRD Kota Jambi. Posisi saya sangat sulit waktu itu, dilematis. Kesediaan Da Zul menjadi juru bicara Pansus, membacakan hasil kesimpulan Pansus di Rapat Paripurna walaupun berbeda pendapat dengan sikap akhir (stemmotivering) Fraksi PKS, sangat saya hargai. Pansus maunya ada penghematan anggaran melalui perampingan dinas sehingga sepakat dengan 9 Dinas saja dari Formasi 13 Dinas yang ada. Tetapi PKS pada menit-menit terakhir setelah masa lobi yang cukup alot, justru fix di formasi 14 Dinas mengikuti Golkar sebagai rekan koalisi Pilwako saat itu. Saya dan Da Zul sebetulnya utusan Fraksi yang tidak terlalu sepakat dengan hasil kesimpulan Pansus, tetapi toh khalayak juga taulah sikap pribadi kami tentu berafiliasi ke sikap akhir Fraksi PKS.
Beliau sosok yang pendiam, hanya bicara jika perlu saja. Dia orang yang sensitif, mudah tergugah hati. Da Zul pernah pingsan dalam suatu muhasabah sewaktu ada Dauroh Aleg PKS di Bengkulu. Da Zul juga pernah tiba-tiba menangis saat pidato membacakan Pandangan Umum Fraksi PKS saat santer menolak rehab gedung DPRD yang bakal menghabiskan dana APBD belasan miliar rupiah. Dan sehari setelah musibah dirinya dirazia di panti pijat itu, Da Zul juga 2 kali pingsan sebelum akhirnya datang ke DPW PKS Jambi untuk menghadapi konfrensi pers, lalu menyatakan mundur dari DPRD Kota Jambi sekaligus mundur dari pencalegannya di Dapil Jambi Timur-Pelayangan.
Jabatan terakhir Da Zul di DPRD Kota Jambi selain beliau adalah Wakil Ketua Fraksi PKS, beliau akhir Desember 2008 kemarin baru menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Ketua Komisi B. Di struktur partai, beliau adalah salah seorang Ketua Bidang di DPW. Beliau juga aktif di berbagai kegiatan di DPD dan DPC.
Saya tidak melihat ada gaya hidup yang berubah signifikan setelah Da Zul menjadi Aleg. Hingga saat ini beliau dan keluarganya masih ngontrak rumah sederhana di Talang Banjar (karena ada tuntutan Aleg PKS harus tinggal di Dapilnya). Di rumahnya pun tidak ada barang mewah. Selain motor tuanya itu, hanya tampak satu lemari penuh buku, televisi di ruang keluarga, room set anak-anak dan seperangkat kompor gas di dapur si ummi. Tidak ada sofa di sana, boro-boro koleksi keramik mewah!! Tamu yang datang terpaksa duduk lesehan di atas karpet sederhana. Kalaupun Da Zul sesekali bawa mobil Carry edisi lama, itu sebetulnya mobil milik mertuanya, kadang-kadang dipakai untuk menjemput anak-anaknya: Ainun, Ahmad dan si kecil Aziz.
Uda Zul memang sangat gemar olahraga Badminton seperti bapak-bapak anggota dewan yang lain. Kantor kami memang punya gedung olahraga sendiri, sehingga keluarga besar DPRD Kota bisa leluasa memanfaatkan waktu luang di situ. Di kantor, teman-teman Fraksi lain mengakui Da Zul cukup lihay main bulu tangkis ini. Mungkin saking semangat, badan Uda Zul sering pegal-pegal, saya yakin bapak-bapak sparing partner dia juga begitu jika terlalu menguras energi. Diakui oleh rekan-rekan sejawat, kalau pegal mereka kadang mampir rame-rame ke Panti Pijat Sehat Bersih yang lokasinya cukup dekat dari kantor dan memang punya izin operasional resmi dari Pemerintah Kota. Bahkan sesekali bapak-bapak itu bawa istri mereka sekedar pijat refleksi karena memang pengunjung laki-laki dan perempuan dibedakan tempat dan petugas yang melayaninya, harus sama-sama laki-laki atau sama-sama perempuan (Itulah yang saya heran mengapa pada kasus Da Zul koq justru petugasnya lain jenis? Menurut wartawan yang ikut Razia tetapi tidak ikut menjelek-jelekkan Aleg PKS di media, ada kemungkinan razia itu direkayasa. Tapi maaf saya tidak ingin buka di sini karena kuatir pencemaran nama baik pihak tertentu).
Yach… siapa sangka hobby berolahraga ini justru menjadi sandungan di belakang hari. Mungkin Allah ingin mengingatkan bahwa ada tupoksi Aleg yang lebih penting daripada sekedar riyadhoh. Wallohu a’lam.
Yang pasti, kinerja dan keikhlasan Uda Zul dalam beramal jauh lebih baik dibandingkan saya. Apa yang telah terjadi atas Da Zul adalah pertanda Allah masih sayang sama beliau, Allah mungkin sedang mempersiapkan rencana yang lebih baik untuk beliau dan keluarganya.
Tetapi terus terang kami di Fraksi belum siap kehilangan… Seseorang yang pergi begitu saja karena media lokal, nasional, cetak, elektronik, bahkan internet secara sistematis telah terlanjur membunuh karirnya tanpa ampun sampai beliau sangat malu dan tak punya muka lagi untuk sekedar datang ke kantor. Padahal tidak ada Perda dan aturan KUHP / KUHAP yang beliau langgar saat peristiwa di Panti Pijat itu. Beliau sedang pijat tradisional di tempat resmi dan petugas resmi, tidak ada asumsi razia yang dia langgar tapi Satpol PP dan Poltabes – dengan alasan mengamankan Pejabat Daerah – telah menggiring publik menuduh dia berbuat mesum dengan pemijat. Astaghfirullah… Kasihan Uda Zul. Sebagai kader Partai Da’wah, Dewan Syari’ah PKS lebih berhak menilai sejauh mana kesalahan beliau. Dan inisiatif pengunduran diri dari DPRD maupun dari pencalegannya di Pemilu 2009 adalah sebuah inisiatif yang patut dihormati. Bahkan itu sebetulnya masih terlalu berlebihan.
Kali terakhir saya bertemu dengan Uda Zul di DPRD – subhanalloh saya rasanya mau nangis lagi… - kami berlima duduk bersama di Fraksi PKS di Lantai 2, ngumpul saja karena Jum’at pagi itu tidak ada agenda rapat. Bang Dede sedang ngonsep Pandangan Umum RPJP di laptop, Mas Hiz baca koran, saya baca majalah Ghoib buat persiapan ngisi Rohis sejam lagi, sedangkan Bang Zay seingat saya baca printout PP.8/2008. Lalu Uda Zul? Dia serius memperhatikan HP-nya menyetel tilawah Qur’an (kalo gak salah, surat Al.Anfaal, taujih robbani yang paling mengena jelang Pemilu 2009). Murottal itu distel Da Zul agak keras sehingga saya yakin terdengar dari lantai bawah ruang Fraksi. Dan kami berlima cukup lama saling diam menyimak ayat-ayat Allah di sela kegiatan masing-masing, sampai menjelang jam 11 siang saya pamit duluan mau ke SMA 5….
Ah, Da Zul!! Ketika saya menjenguk ke rumahnya pasca pemberitaan itu untuk bertemu dengan istrinya (Mbak Lisa), hanya sekilas saya lihat Da Zul membukakan pintu untuk kami. Selebihnya, beliau lebih memilih masuk ke dalam. Hanya ada Mbak Lisa dan anak-anak yang menyambut kami dengan sejuta kesabaran di antara suara tertahan dan sesak di dadanya. Sementara mereka tegar, kami yang memandangi malah menangis. Sama seperti Da Zul, saya juga sudah belasan tahun mengenal Mbak Lisa sejak di Kampus, kami seangkatan 93. Selain dikenal sangat sabar dan pendiam, istri Da Zul juga seorang pekerja keras. Beliau guru SD Islam Terpadu Nurul Ilmi. Bayangkan bagaimana Mbak Lisa harus menghadapi ratusan wali murid yang bertanya-tanya tentang kejadian itu. Sementara anak-anak bertanya, “Ummi… Mengapa Abi tidak ngantor?”
Kasus razia panti pijat itu pahit banget yak!! Tidak terbayang kalau dalam sisa masa jabatan yang tinggal sekitar 5 bulan ini mendadak harus menghadapi drama voting di ruang Paripurna, sementara suara PKS kurang 1 orang… Walaupun saat ini isu pemecatan Kepala Satpol PP akibat salah ringkus di razia itu sudah disepakati oleh semua Fraksi di DPRD Kota Jambi (di sini total ada 40 kursi), kecuali Fraksi PKS memilih abstain untuk menjaga objektivitas. Saya masih tidak habis pikir, bukankah istri Kepala Satpol PP itu juga seorang akhwat PKS? Ah, otak saya masih bebal membaca situasi politis terselubung di balik penangkapan berdalih pengamanan Pejabat itu. Tapi semua respon dan dukungan dari internal DPRD Kota Jambi tidak akan mengembalikan kehidupan Da Zul seperti sedia kala. Mungkin butuh bertahun-tahun untuk pulih, entahlah.
Saya ingin katakan bahwa mungkin Uda Zul bersalah secara syari'ah (baca: berdosa) dan kasus ini sudah diambil alih DPP. Tetapi tidak layak kita ikut-ikutan memojokkan beliau. Dalam hearing Komisi A sepekan setelah kejadian itu, saya katakan kepada perwakilan Poltabes, Satpol PP, dan rombongan wartawan PWI yang hadir, "Al insaan makaanul khotho' wa khoiru khothoo-ihaa at tawwabiin." (Manusia adalah tempat berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat).
Sebagai sesama muslim, beliau adalah saudara kita yang punya hak-hak ukhuwwah dan harus kita tunaikan. Cukuplah beban vonis sosial yang ditanggungnya. Ingatlah istri dan anak-anak serta keluarga besar beliau ikut menanggung apa yang dirasakan Uda Zul. Sementara apa yang sudah kita lakukan hari-hari ini? Apakah memang kita merasa lebih baik akhlaqnya dibanding beliau? (Terutama untuk saya pribadi dan 1112 Aleg PKS se-Indonesia, kiranya lebih berhati-hati terhadap potensi jebakan dari lawan-lawan politik)
Wallohu a'lam.
dari http://pur76.multiply.com/
Komentar:
saya berinteraksi dengan da zul, semenjak saya masuk FE UNJA tahun 95, saya yuniornya mbak pur di FE, saya berinteraksi dengan beliau di rohis universitas, majlis taklim sholahuddin UNJA,sampai ke KAMMI Daerah Jambi, bahkan saya dengan da Zulhamli Al-Hamidi, S.Pt, akh Dede Firmansyah,SP (Rekan da zul di DPRD Kota Jambi), akh Agus Supriadi,S.Pt,MSi (Dosen di Palembang), pernah sama-sama "numpang" jadi marbot di KAMMI Daerah jambi, sewaktu itu sekretariat KAMMI daerah jambi ada di rumah ibu Munawir sungai kambang, saya masih ingat untuk berhemat (atau lebih tepatnya ngak punya uang untuk makan malam), setelah sholat magrib di masjid nurdin hasanah kita berempat masak nasi trus beli pecel lele, tanpa ayam dan lele, cuma beli tahu dan tempenya, trus sambalnya di banyakin, agar bisa makan semua) beginilah cerminan ke sederhanaan da zul, sampai sekitar 1,5 bulan sebelum kejadian di panti pijat itu, saya menemani da zul, di jakarta setelah selesai rapat, beliau menyempatkan diri untuk beli atribut, dan saya di ajak, ketika beli atribut PKS, saya didalam hati merasa bangga da zul tidak berubah, karena tidak sungkan-sungkan membeli atribut PKS yang banyak (seingat saya 1 juta lebih), tanpa rasa merugi sedikitpun, bahkan beliau cerita kalau beli rompi, maka biasanya setelah pulang dari jaulah (perjalanan ke daerah binaan), biasanya rompinya di tinggalkan di kader di daerah tersebut.
saya kaget ketika media massa menguliti da zul, dan saya tabayun (klarifikasi), ternyata tidak seperti di media massa...saya hanya berharap da zul sekeluarga bisa bersabar, dan ikhwafillah lebih bijak melihat kader yang sedang terdzolimi....saya yakin da zul, mbak Lisa, dan mujahid-mujahid kecilnya bisa istiqomah dengan ujian ini, termasuk keluarga besar da zul dan mbak lisa, semoga tetap solid dan berhasil keluar sebagai pemenang dalam ujian ini. Amin. ALLAHU AKBAR.3x
Jaharuddin
yunior da zul di LDK dan di KAMMI Daerah Jambi

>Barang siapa yang meninggalkan berlebihan dalam bicara, ia akan memperoleh hikmah
>Barang siapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia akan memperoleh kekhusyu’an
>Barang siapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka ia akan diberi kelezatan beribadah
>Barang siapa yang meninggalkan berlebihan tertawa, ia akan memperoleh kewibawaan
>Barang siapa yang meninggalkan kecintaan dunia, ia akan mendapatkan cinta akhirat
>Barang siapa yang meninggalkan sibuk oleh aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sendiri
(Seorang ahli hikmah)

Lima hal yang jika ada pada seseorang,berarti Allah telah mengumpulkan keimanan untuknya
1. Nasehat Karena Allah dan Rasulnya
2. Mencintai Allah dan Rasulnya
3. Mencurahkan keridhoan untuk manusia dan menghindari kemurkaan mereka
4. Menyambung shilaturahim
5. Jika keadaannya ketika sendirian sama dengan keadaannya ketika di kermaian
(Hasan bin Athiyah)

“Bersegeralah Kalian menuju amal Shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, dimana seorang mukmin bila berada di waktu Pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan benda dunia” (HR.Muslim)
Alhamdulillahirrobbil alamin.
Syukur kepada Allah SWT karena berkat dan rahmat-Nya penelitian dan penulisan tesis di program magister Biomedik dapat terselesaikan. Penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak selama masa perkuliahan, penelitian, sampai terselesaikannya tesis ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Prof. dr. Jeanne Adiwinata Pawitan, PhD selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing I tesis, untuk seluruh waktu, bimbingan, dedikasi pemikiran, bantuan dan dukungan dalam keseluruhan proses akademis di Magister Ilmu Biomedik FKUI.
2. dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD selaku pembimbing II tesis sekaligus Ketua Departemen Histologi FKUI, untuk seluruh bantuan, pemikiran, dan dukungan moral maupun material untuk penulis selama menempuh keseluruhan proses akademis di Magister Ilmu Biomedik FKUI.
3. Dekan FKUI, DR.Dr.Ratna Sitompul,SpM(K); Wakil Dekan FKUI, Prof.Dr.Pratiwi Soedarmono,PhD,SpMK dan Manajer SDM dan Keuangan FKUI(DR.Dr.Siti Setiati, SpPD-KGer), yang telah memberikan kesempatan lewat beasiswa S2 FKUI untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi bagi penulis.
4. Dr.rer.physiol. Septelia Inawati Wanandi, Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik FKUI untuk seluruh bantuan dan dukungan dalam keseluruhan proses pendidikan S2 ini.
5. Dewan Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, yang telah mendanai Riset Tesis S2 ini.
6. dr.Sugito Wonodirekso, MS atas inisiasi ide penelitian dan dorongan untuk menempuh pendidikan lebih lanjut.
7. dr. Lia Damayanti, M.Biomed, Sp.PA yang dengan suka rela membuka wawasan penulis tentang proses pewarnaan imunohistokimia dan membantu penulis memulai pengerjaan imunohistokimia tenascin C.
8. Kepada dr. Isnani A Suryono, MS; dr. Atikah C Barasilla,MBiomed; dr.R Soeharto, Sp.THT; dr. Siti NS; dr.Rulliana Agustin, MMedEd; dr. Dewi Sukmawati, MKes; dr.Soenanto Roewijoko, MS, Sp.A; terima kasih atas niche yang hangat, stimulatif dan kondusif hingga seluruh proses akademik S2 mampu dilintasi. Ibu Isbandiyah, Bpk Dina S, Ibu Mini, Mas Kanto, Mas Mugi, Mbak Ike terima kasih banyak atas bantuan dan kerja samanya.
9. Dra. Ria Kodariah, MS yang mendedikasikan waktu dan pemikirannya untuk membimbing dalam proses pengerjaan imunohistokimia di Lab Imunopatologi Patologi Anatomi FKUI.
10. Prof. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD. KAI, PhD yang mendonasi dana untuk memulai pewarnaan imunohistokimia Tenascin C.
11. Drs. Cornelius Adimunca selaku kepala Laboratorium Hewan Coba dan Toksikologi PusLitBang Biomedis dan Farmasi DepKes yang telah membantu dalam penyediaan hewan coba untuk subyek penelitian ini.
12. Ibunda tercinta, Hj. Elma Sumbogo dan adik tersayang, drg. Radiati Dhewayanti A terhatur terima kasih terdalam atas seluruh bantuan, pengawasan dan dukungan sepanjang proses akademik ini. Untuk papa tercinta Ir.H. Sumbogo Antarianto, MSc (alm), tesis ini nana persembahkan sebagai metamorfosis utuh dari modul incinerator yang kita kerjakan bersama (proyek ilmiah akhir di SMU 8).
13. Jaharuddin, SE , pendamping dan motivator terbaik di setiap kesempatan. Untuk dukungan moral, material dan semangatnya sehingga keseluruhan proses akademik termasuk penelitian dapat terselesaikan. Untuk buah hati dan sumber inspirasi ummi, M Dzakwan Alif dan M Zaky Taqyudin, terima kasih atas kerelaan membagi sebagian masa kebersamaan kita sehingga ummi dapat menyelesaikan studi dan tesis.
14. Keluarga dan sahabat yang telah memberikan banyak dukungan moral untuk terselesaikannya tesis ini. Terima kasih khusus kepada Ny. Hj. Ir.Eleanor Martigora Emzita yang telah mengawali pembiayaan tesis ini.
15. Kepada rekan-rekan biomedik, terutama satu kekhususan dr. Veronika MS terima kasih atas kerja sama dan bantuan selama ini sehingga penelitian tesis bisa diselesaikan.
Semoga Allah SWT meridhoi setiap langkah kita dalam mengamalkan ilmu-Nya.
Dr. Radiana Dhewayani Antarianto. M.Biomed (Mahasiswi Program Doktoral FKUI)
Keterangan gambar (kanan ke kiri): Mama, dr Nana M Biomed, dr. Isnani A Suryono, MS, dr. Suryono, SpOG(K)
alhamdulillah berkat kerja keras dr. Radiana Dhewayani Antarianto, M Biomed dan dukungan semua pihak terutama mama, prof. dr. Jeane, dr. Aulia Jusuf PhD,dan senior-senior di departemen Histologi FKUI,anak-anak, suami , tante dan om, dan semua pihak lainnya, dr nana berhasil lulus dari magister Biomedik dengan predikat cum laude, dan saat wisuda (31 Januari 2009) mendapatkan penghargaan sebagai penulis jurnal internasional tahun 2008 dengan judul : siqnifican of ocular stem cells in tissue engineering of the eye. semoga ditahun-tahun depan mampu mencetak prestasi-prestasi selanjutnya. mohon do'anya.Amin.







